Kontrol Makanan Si Jagoan 6 Bulan Selama Puasa

bubur bayi 6 bulanSumber: ABC News

Selama bulan puasa, urusan dapur tentu akan lebih disibukkan dengan menyiapkan menu-menu makanan untuk berbuka dan sahur. Mana takijl, mana bubur bayi 6 bulan yang harus disiapkan, dan masih banyak lagi apalagi kalau jelang lebaran. Dengan adanya kesibukan tersebut, Bunda seringkali keletihan dan bahkan lupa untuk memerhatikan menu pendamping ASI si kecil. Coba perhatikan beberapa poin berikut ya, Bun. Pastikan kalau Bunda tidak melakukan hal ini selama bulan puasa.

  1. Menghangatkan Kembali Bubur Si Kecil

Menghangatkan kembali bubur yang sudah dimasak buat jagoan kecil Bunda yang berusia 6 bulan memang tidak masalah.  Seringkali justru cara ini akan lebih praktis daripada memasak bubur secara berulang-ulang dalam porsi kecil. Tapi tentunya, menghangatkan bubur si kecil tidak selalu berdampak baik, Bun.

Salah satu badan pengawas standar makanan di Amerika Serikat menyatakan bahwa bubur yang berbahan nasi sebaiknya tidak dihangatkan berulang kali. Jika memang terpaksa, sebaiknya bubur hanya dihangatkan sebanyak satu kali. Menurut salah satu pakar badan pengawas tersebut, makanan yang dihangatkan berulang kali akan menimbulkan racun karena zat gizi yang berada di dalamnya dimasak dengan panas secara berulang ulang.

Bagaimana, Bun? Yakin masih mau menghangatkan bubur si kecil terus menerus?

  1. Memberikan menu berat buat si kecil

Dengan terfokusnya Bunda dengan persiapan menu-menu buka puasa dan sahur, tentunya Bunda akan lebih menyiapkan bahan makanan buat anggota keluarga dewasa.

Sebagai contoh, bahan makanan yang kerap kita konsumsi, yaitu telur. Tentunya semua orang tahu bahwa telur tidaklah berbahaya dan malah mengandung zat gizi yang baik buat tubuh. Protein dan lemak yang terkandung di dalamnya tentu akan membantu tubuh dalam menjalankan proses metabolisme.

Namun menjadikan telur sebagai bahan dasar MPASI bukanlah pilihan yang tepat, terlebih jika telur tersebut dicampurkan ke dalam bubur si kecil. Telur merupakan salah satu pemicu alergi atau dikenal dengan istilah allergen. Dengan kandungan di dalamnya, tidak semua bayi ocok dengan protein di dalam telur. Alih-alih membuatkan makanan yang kaya gizi, si kecil justru akan menimbulkan reaksi yang berbeda. Banyak ahli berpendapat kalau telur ayam dan jenis telur lain, sebaiknya diberikan setelah si kecil berusia satu tahun ke atas agar reaksi tubuhnya tidak terlalu berlebihan.

  1. Mencampurkan gula dan garam sebagai perasa

Biasanya pada saat memasak, Bunda akan menambahkan gula maupun garam sebagai penambah rasa. Nah, hal ini sebaiknya tidak lakukan kepada makanan si kecil.

Sebagaimana kita ketahui, gula dan garam merupakan penambah rasa buatan yang sudah diolah di pabrik dan kemudian dikemas dan dijual di pasaran. Kita tidak pernah benar-benar tahu kandungan apakah yang terdapat di dalam kedua zat tersebut. Selain itu, ada baiknya memperkenalkan rasa alami makanan kepada si kecil. Apel atau nasi yang manis, gurihnya rasa alpukat, asamnya rasa jeruk dan lain sebagainya. Hal ini akan membuat indra pengecap si kecil lebih sensitif terhadap rasa makanan dan tentunya tubuh si kecil tidak akan terkena zat-zat perasa tambahan dari luar.

Lebih fatal lagi pengearuhnya kalau Bunda memberikan MSG atau perasa yang mengandung vitsin buat si kecil. Pernahkah Bunda melakukannya? Hindari ya, Bun. Vitsin merupakan penyedap makanan yang memiliki berbagai campuran berbahaya apabila dicampurkan dalam kadar yang tidak tepat.

Nah, setelah membaca poin-poin di atas, tentunya Bunda dapat lebih berhati-hati dalam menyiapkan bubur bayi 6 bulan. Terlebih pada saat bulan Ramadan, Bunda akan kebingungan karena harus menyiapkan berbagai menu keluarga lainnya.

Be the first to comment on "Kontrol Makanan Si Jagoan 6 Bulan Selama Puasa"

Leave a comment